Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Nin Djani – Di Balik Layar Pameran Seni

Nin Djani – Di Balik Layar Pameran Seni

Dalam pengertian tradisional, seorang kurator bertugas untuk merawat koleksi di sebuah museum atau galeri, perpustakaan, atau pusat arsip. Seorang kurator bertanggung jawab untuk memilih, mendokumentasikan, dan meneliti objek-objek koleksi kemudian berbagi informasinya kepada publik melalui pameran serta publikasi. Tapi pada prakteknya seperti apa proses kurasi itu?


Kulturalindonesia mewawancarai Nin Djani, Kurator Edukasi dan Program Publik Museum MACAN (Museum Seni Modern dan Kontemporer di Nusantara), yang juga seorang Penulis dan Editor.
K: Bisa ceritakan latar belakang anda dan bagaimana awal memutuskan menjadi seorang kurator?

ND: Sejak bisa membaca, saya jadi senang menulis dan mengeksplorasi segala yang terkait dengan sejarah, budaya, seni dan desain. Ketertarikan ini juga tersalurkan dari pengalaman keluarga yang majemuk serta masa kecil yang dilewati berpindah-pindah kota dan negara, sehingga sejak remaja saya jadi terpapar pada keberagaman dan sudut pandang baru.
Tetapi, jauh sebelum memantapkan diri untuk menjadi kurator, terlebih dahulu saya memutuskan untuk terus belajar menulis. Saya mengambil kuliah di bidang Media dan Komunikasi, dengan spesialisasi penjurusan penulisan kreatif sambil bekerja sebagai kolumnis dan editor lepas di koran kampus serta beberapa media gaya hidup. Setelah lulus, saya mendapatkan kesempatan untuk langsung meneruskan pascasarjana di bidang studi budaya Asia Tenggara dengan kajian riset pada koleksi museum kesejarahan dan ekonomi kreatif. Pada tahapan ini, saya berpikir bahwa saya akan bekerja sebagai peneliti.
Ternyata setelah kembali ke Indonesia di akhir tahun 2014, saya justru dibuat penasaran pada bidang periklanan. Saya mengawali karir sebagai copywriter di Jakarta Vintage sebuah advertising agency. Pada tahun 2015, saya bergabung di Suar Artspace sebagai penulis dan manajer komunikasi. Sebagai galeri eksperimental baru yang juga memiliki misi pendidikan seni, Suar mempertemukan saya dengan para pelaku kesenian dan kebudayaan. Saya memutuskan bahwa saya ingin terus mengembangkan kemampuan saya sebagai penulis dan peneliti di bidang kuratorial. Setelah ‘berkenalan’ dengan seni di Suar, saya melanjutkan proses belajar di ARCOLABS sebuah kolektif kuratorial berbasis riset sembari terus menjajal proyek-proyek kurasi secara independen. Selama lima tahun berkecimpung di bidang kuratorial, saya perlahan menyadari bahwa hal yang paling saya nikmati dari bekerja sebagai kurator adalah proses eksplorasi bersama perupa, berkolaborasi dengan berbagai pihak dan berbagi dengan publik. Dengan membawa kesadaran inilah, saya memutuskan untuk bergabung dengan Museum MACAN sebagai Kurator Edukasi dan Program Publik.

K: Apa sebenarnya tugas seorang kurator, siapa yang memutuskan layak atau tidaknya sebuah karya untuk dipamerkan, apa parameternya?

ND: Bagi saya pribadi, saya menginterpretasikan peran kurator sebagai seorang penghubung dan kolaborator, karena dalam praktiknya ada banyak sekali pihak yang terlibat dalam melaksanakan sebuah pameran, mulai dari kurator itu sendiri dan perupa yang terlibat, serta manajer pameran, perancang ruang pamer, art handlers, desainer grafis, tim komunikasi, edukator, sponsor, patron, publik, dan beragam peran lainnya. Seorang kurator harus mampu bekerja sama dan mau mempertimbangkan sudut pandang dari pihak-pihak pemangku kepetingan ini supaya proyek dapat berjalan dengan lancar. Dengan pandangan demikian, menurut saya parameter kelayakan karya untuk dipamerkan atau tidak jadinya sangat bergantung dengan tujuan pameran itu sendiri.

K: Bisa anda jelaskan proses kuratorial anda?

ND: Proses kuratorial saya selalu dimulai dengan riset. Sebisa mungkin saya menggali sebanyak-banyaknya informasi mengenai perupa serta kekaryaannya dari dokumentasi dan publikasi yang tersedia. Kemudian, saya akan membangun relasi dengan perupa – bisa berupa kunjungan studio dan wawancara – dan menjalin korespondensi rutin selama proses persiapan pameran untuk bersama-sama menggali dan mengeksplorasi potensi-potensi yang bisa dikembangkan baik dari segi narasi karya, medium, program pendukung dan lain-lain.
Kemudian secara paralel, saya juga akan berkoordinasi dengan pihak-pihak lain yang terlibat di pameran ini – misalnya pihak galeri/museum, tim publikasi (dokumentasi, desainer, komunikasi), dan edukator sehingga keseluruhan aspek pameran bisa direncanakan dengan baik dan hambatan yang muncul bisa diatasi sebelum menjadi masalah besar.

K: Peran kurator dewasa ini terus berkembang, menurut anda apa artinya menjadi kurator sekarang ini, apa saja tantangannya?

ND: Sebagai pekerja seni, saya pribadi cenderung lebih tertarik untuk melebarkan makna kurator ini sebagai penghubung atau mediator, yang menghubungkan berbagai fenomena yang ada di publik ini dengan perupa, karya seni, dan presentasi karya yang tepat. Meski peran dan potensi peran kuratorial ini begitu luas, menurut saya salah satu tantangan yang besar adalah keterbatasan akses. Perlu diakui, setidaknya di Indonesia, masih ada jarak yang besar antara seni dan publik. Institusi seperti museum dan galeri masih dianggap membosankan atau bahkan “menakutkan” bagi masyarakat luas. Artinya, kurator perlu terus berinovasi dan mengembangkan pendekatan seni dan museum kepada publik dengan beragam cara supaya seni dapat dinikmati secara inklusif.

K: Hal yang paling menyenakan dalam pekerjaan anda sebagai kurator?

ND: Hal yang paling menyenangkan adalah mendapatkan akses ‘di balik layar’ dari sebuah proses artistik. Tentu perjalanannya tidak selamanya mulus dan pasti ada momen jatuh-bangunnya, tapi saya sangat menikmati penemuan ide-ide dan metode baru serta kesempatan untuk terhubung dengan orang lain.

K: Sebagai penulis, siapa penulis favorit anda, buku apa yang sedang anda baca saat ini?

ND: Saya belajar satu-dua hal dari setiap penulis yang karyanya saya baca, jadi susah-susah gampang juga untuk mengerucutkan daftarnya. Saya kagum dengan cara penulis-penulis kontemporer Jepang mendeskripsikan emosi secara subtil. Saya juga kepingin belajar menarasikan sejarah dan politik secara luwes seperti Rutger Bregman dan Hasan Minhaj. Untuk penulis Indonesia, saya selalu menikmati realisme magis di karya-karyanya Eka Kurniawan dan saya juga terinspirasi dengan Dewi Lestari, yang serba bisa dalam membahas berbagai topik mulai dari kopi dan filosofi hingga sains populer dan musik.
Saat ini, saya sedang baca Funny Weather oleh Olivia Laing dan Dawuk karya Mahfud Ikhwan.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.