Pameran Playful Bites Mulyana, Mengubah Paket Bento Menjadi Monster Makanan, Membuat Tiruannya dalam Bentuk Rajutan
Ditengah kebosanan karena karantina akibat pandemi Covid 19 di Korea, makanan
menghadirkan ide-ide gila. Paket makan dengan segala menu di dalamnya disusun
kembali menjadi tampilan bentuk monster-monster. Tak berhenti sampai disitu,
selain didokumentasikan dalam bentuk foto dan video, bentukan monster itu
ditransformasikan dalam bentuk rajutan benang.
Hal itulah yang dilakukan Mulyana, seniman asal Bandung ini mengalami masa
karantina akibat pandemi Covid19 di Korea saat masa residensi 2020. Mang Moel,
panggilan akrabnya, memang dikenal dengan seniman instalasi dengan rajutan
benang ciri khasnya. Dari kebosanan di Korea, lahirnya sebuah rangkaian karya
seni.
Dari paket bento yang dikirim selama 14 hari masa karantina sebelum masuk ke
Korea Selatan kala itu. Berlanjut di tahun 2021, 41 karya rajutan food monster
dipamerkan di Chonju Craft Biennale Korea. Bahkan karya-karyanya berlanjut
dipamerkan di Jepang dan Malaysia di tahun 2024.
“Saya memang akrab dengan makanan, ibu saya pengusaha catering dan ayah
saya berjualan bumbu masak,“ jelasnya dalam sebuah wawancara, Hal ini yang juga
memudahkannya berekpresi dengan makanan. “Seluruh karya food monster saya
ambil dari menu yang saya peroleh setiap hari, dalam satu monster makanan saya
proses dalam 15-30 menit. Bahkan walaupun sudah jadi, kadang saya ubah menjadi
bentuk yang lain,“ cerita seniman yang kini bertempat tinggal di Yogyakarta.
“Monster ini sebagai wujud dari semangat perjuangan, masa karantina bukan untuk
bersedih, namun saya ubah menjadi inspirasi, mengubah apa yang ada menjadi
sesuatu yang berguna,“ ujarnya.
Nala Nandana, kurator dalam pameran ini menyatakan bahwa rangkaian karya ini
mengeksplorasi hubungan antara seni, permainan dan pengalaman indrawi.
Berangkat dari makanan, proyek ini menghadirkan seni tidak hanya sebagai obyek
visual, tetapi sebagai pengalaman hidup yang multi sensorik, yang dapat dilihat dan
dirasakan bahkan dihayati sebagai bagian dari budaya percakapan sehari-hari.
(Walaupun dalam pelaksanaan pameran ini, pengunjung dilarang untuk memegang
karya-karya ini, cukup dilihat dan coba dihayati.
“Melalui pameran ini, Mulyana mengajak pengunjung masuk dalam ruang imajinasi,
di mana meja makan menjadi panggung interaksi estetis dan seni berperan menjadi
medium yang cair, partisipatif dan merayakan kegembiraan sederhana dalam
kehidupan sehari-hari,“ kata sang kurator.
Maksudnya berpartisipatif adalah dengan mengikuti beberapa kegiatan yang
diadakan dalam pameran ini. Dengan biaya pendaftaran Rp50.000, pengunjung
diberi kesempatan menyusun modul rajutan kue basah karya Mulyana jadi monster
versinya sendiri, lalu foto dan dicetak hasilnya. Caranya dengan daftar di kasir
Dia.Lo.Gue Shop, lalu diberi waktu 15 menit berkarya dan cetak fotonya, lalu
hasilnya dapat diunggah di media sosial masing-masing dengan memakai hashtag
#foodmonsterproject.
Rangkaian model monster besar, dan berbagai jenis makanan dalam menu bento
ditampilkan seakan makanan prasmanan dan benar-benar menggoda pengunjung
untuk menyentuhkan dan merasakan tiruan makanan rajutan berwarna-warni ini.
Bahkan lebih ke belakang ruang pameran, tiruan makanan berlanjut ke makanan
tradisional dalam bentuk tumpeng nasi kuning dan lauk-pauknya, gunungan
makanan dalam tradisi Jawa, bahkan ada yang digelar di meja layaknya warung
jajanan pasar dan kue basah di pinggiran jalan kampung.
Disamping ada ruang khusus yang menyajikan karya pertama Mulyana di masa
pandemi, lengkap dengan video dokumentasi paket makanan bento asli saat di
Korea. Lalu ada tampilan rajutan paket bento lengkap dengan kotak makan dan
botol minumannya.
Pameran ini sungguh menyajikan kesegaran penyajian karya-karya seni rupa dan
instalasi diantara pameran lain yang kadang perlu waktu dan referensi untuk
mencerna isi kepala para senimannya. Sajian ringan dan akrab dalam keseharian
pengunjung dalam bentuk-bentuk rajutan makanan tiruan ini, menjadi wawasan
baru pengunjung dalam menyelami dan mengapresiasi karya seni instalasi.
Karya-karya rajutan ini dipamerkan dalam pameran bertajuk Playful Bites Dialogue
Arts Space, Kemang, Jakarta Selatan. Mulai 1 Oktober hingga 31 Desember 2025,
dibuka setiap hari.
Foto: Ferry Irawan | Kultural Indonesia
Dok. Dia.Lo.Gue






