Pentas Rumah Dengan Selembar Tikar di LIFEs Salihara
Gambaran tokoh bangsa membentuk negara Indonesia
Di penghujung rentang Literature and Ideas Festival (LIFEs) yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara, pada tanggal 16 Agustus 2025 dipentaskan pembacaan notulen rapat Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dengan judul Rumah dengan Selembar Tikar. Pementasan menyajikan perdebatan yang menarik dari para Founding Fathers Bangsa Indonesia dengan membawa idealisme masing–masing untuk mencapai kesepakatan bagaimana bentuk negara Indonesia yang akan dibentuk.
Pertunjukkan dengan tema sejarah ini disajikan dalam konsep teater arsip, yaitu lembar arsip ( naskah) tersebut dipegang untuk mencoba menciptakan koneksi langsung yang memiliki rasa autentisitas antara aktor, penonton, dan arsip tersebut serta fokus yang lebih kuat kepada kata-kata dan makna yang terkandung dalam arsip.
“Pentas ini merujuk pada catatan-catatan diskusi yang terjadi pada sidang BPUPKI dan juga pengalaman pribadi dari 2 tokoh masa sekarang,“ ujar Yessy Natalia sang sutradara.
Pentas ini dimainkan oleh Kelompok Kolektif, yang terbentuk secara alami untuk kebutuhan pementasan ini. Kelompok Kolektif, selain Yessy Natalia sebagai sutradara, dibantu oleh Iskandar Muda sebagai skenografer dan Sari Setyorini sebagai asisten sutradara, bersama 15 aktornya lulusan kelas akting salihara dari berbagai angkatan yang mewakili tokoh-tokoh bangsa yang menjadi anggota BPUPKI termasuk 2 aktor dan aktris yang mewakili generasi masa sekarang yang terus bergulat dengan masalah identitas kebangsaannya, sebagai warga keturunan.
BPUPKI diketuai oleh Dr. K.R.T Radjiman Wedyodiningrat, wakil 1 Itibangase Yosio dan Wakil 2 R.P Soeroso. Beranggotakan 69 orang yang mewakili berbagai lapisan masyarakat termasuk ideolagi, baik itu nasionalis, agama dan sebagainya, serta mewakili kalangan keturunan, baik itu keturunan Tionghoa, Arab dan bangsa lainnya, yang kemudian ditambah 7 orang lagi dari Jepang. Badan bentukan Jepang untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia pada 29 April 1945 ini melakukan 2 kali sidang. Pertama tanggal 29 Mei dan 1 Juni dan kedua tanggal 10–17 Juli 1945.
Dalam pentas ini tidak hanya memperlihatkan debat dalam sidang yang diutarakan oleh tokoh-tokoh bangsa seperti Ir, Soekarno, Mohamad Hatta, Muhamad Yamin, Prof. Dr. Soepomo dan lainnya. Mereka mengajukan idealisme masing-masing tentang bagaimana bentuk dan wilayah Indonesia nanti, apakah negara dengan dasar agama, republik atau monarki.
Juga diselingi dengan kehadiran 2 tokoh warga keturunan Arab dan Tinghoa yang mengalami konflik identitas tentang statusnya sebagai orang Indonesia, yang ironisnya tetap terjadi hingga jaman sekarang. Mereka adalah Haifa Marwan sebagai keturunan Arab dan Reisky Handika mewakili keturunan Tiong Hoa.
Yessy Natalia menjelaskan bahwa kedua tokoh masa sekarang yang diselipkan pada cerita merupakan sebuah penghubung antara masa sekarang dan masa lalu, bahwa menjadi Indonesia adalah sebuah proses yang hingga saat ini masih terus dilakukan oleh sebagian rakyat kita. “Sebenarnya issue yang disampaikan bukan hanya berpusat pada peristiwa 98, akan tetapi lebih menyorot kepada identitas beberapa warga keturunan yang bahkan sejak nenek buyut mereka sudah lahir di tanah Indonesia,” katanya.
Foto: Witjak Widhi Cahaya
Dok. LIFEs





