Sri Hanuraga, Menjadikan Jazz sebagai Metode Menjadi Indonesia
Komunitas Salihara Arts Center, melalui Literature and Ideas Festival (LIFEs) 2025,
melalui salah satu programnya menyajikan “Pentas Ceramah: Jazz sebagai Metode
Menjadi Indonesia” yang dibawakan oleh Sri Hanuraga (Aga), musisi jazz yang juga
berprofesi sebagai dosen musik di Universitas Pelita Harapan pada Kamis, 14
Agustus 2025 di Teater Salihara.
Pentas Ceramah: Jazz sebagai Metode Menjadi Indonesia membahas bagaimana
Aga memahami situasi menggunakan jazz sebagai metode dalam memaknai
Indonesia. Baginya, kesenian dan estetika adalah sebuah alat untuk berpikir, di
mana imajinasi dan rasionalitas saling terkait satu sama lain. Jazz, yang ia telah
tekuni sejak remaja melekat di dirinya, sehingga membentuk cara pandangnya
dalam menangkap dan memaknai berbagai hal di sekitarnya.
Indonesia, dalam pemaknaan Aga adalah hasil proses saling bertemunya paham
dan identitas mulai dari tingkat individu, komunitas kecil, hingga level ekonomi dan
sosial budaya yang lebih luas, termasuk musik.
“Lalu bagaimana jazz membantu saya dalam memahami itu semua? Pertama,
musisi jazz mengamati dan menyerap kosabunyi di luar dirinya lalu
mempersonalisasinya dengan cara yang khas. Bunyi itu diserap apa adanya hingga
benar-benar menubuh, baru kemudian mengalami proses abstraksi, “ ujar Aga,
dalam ceramahnya.
Hasil abstraksi tersebut pun dipelajari sampai menjadi bagian dari tubuh dan
kesadaran. Kedua, jazz terbiasa hidup bersama kontradiksi, merangkumnya tanpa
harus mencari resolusi. Ketiga, jazz mengolah benda-benda bekas dari keseharian
dan segala sesuatu di luar dirinya, lalu mengasingkannya melalui improvisasi.” kata
peraih Artis Jazz Kontemporer Terbaik pada Anugerah Musik Indonesia 2022.
Dalam ceramah ini, Aga menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip dalam jazz dapat
digunakan untuk memahami realitas. Mulai dari kebiasaan musisi jazz menyerap
kosabunyi dari luar dirinya lalu mempersonalisasi hingga menjadi bagian dari
tubuhnya serta menampilkan contoh sonifikasi terhadap puisi dan bunyi dari getaran
penyulingan air minum di Jakarta, di mana keduanya akan dikonversi menjadi
komposisi bunyi yang memancing pendengar untuk melihat realitas dari perspektif
baru.
Karyanya semakin kompleks tatkala bertemu dengan Dewa Alit, Musisi asal Bali
yang menggabungkan bunyi-bunyian dari musik moderen dengan tradisional.
Sehingga sebagaimana sebelumnya dikatakan pertemuan pemahaman dan
identitas, termasuk dalam bermusik akhirnya menciptakan identitas dan pemahaman
baru, menjadi Indonesia.
Sri Hanuraga sendiri selain mengajar telah mengeluarkan album musik dan meraih
banyak penghargaan di dalam dan di luar negeri. Salah satu album musiknya adalah
To the Universe (2015). Ia telah meraih sejumlah penghargaan internasional maupun
nasional seperti soloist prize di East of Eastern Jazz Festival, Nijmegen (2006), The
European Keep an Eye Jazz Award 2011 untuk kategori “Best Band” bersama Daniel
Master Quartet dan Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2016 untuk kategori Artis Jazz
Instrumental Terbaik dan Artis Jazz Kontemporer Terbaik pada Anugerah Musik
Indonesia 2022.






