Pidato Kebudayaan Mochtar Lubis: Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab)
Manusia Indonesia adalah sebuah naskah ceramah Mochtar Lubis pada acara Pidato
Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada April 1977. Dalam pidato
kebudayaannya itu terdapat enam ciri khas manusia Indonesia yang disampaikan oleh
Mochtar Lubis. Naskah ceramah tersebut kemudian disusun menjadi sebuah buku yang
menceritakan tentang bagaimana gambaran manusia Indonesia di tahun 60-an.
Buku Manusia Indonesia merupakan kritik terhadap sikap dan karakter bangsa
Indonesia menurut sudut pandang seorang Mochtar Lubis. Sebuah potret negara
Indonesia yang benar-benar terjadi di sekitar kita. Bukan sebuah karangan atau cerita
fiksi tanpa dasar.
Mochtar Lubis di dalam buku ini mengatakan pendapatnya tentang ciri-ciri manusia
Indonesia yang masih relevan dengan Masyarakat Indonesia saat ini. Dalam buku ini
Mochtar menyebutkan hal pertama dari salah satu ciri manusia Indonesia adalah
‘Munafik’ (Hipokrit). Orang mengatakan bahwa hukum berlaku secara adil bagi semua
orang tanpa pandang bulu. Tapi pada prakteknya tidaklah demikian. Pencuri kecil
masuk penjara, namun koruptor bebas keluar masuk penjara. Menurutnya ciri yang satu
ini cukup menonjol di tengah kehidupan Masyarakat Indonesia.
Yang kedua, ‘Enggan Bertanggung Jawab atas Perbuatannya’. Menurutnya kalimat
“Bukan Saya” Adalah kalimat paling populer di mulut manusia Indonesia. Kesalahan
yang dilakukan oleh atasan digeser ke bawahannya dan seterusnya. Kata lain yang
juga sangat familiar yang ada di tengah masyarakat perkotaan seperti Jakarta adalah
“Saya hanya melaksanakan perintah dari atasan”.
Yang ketiga, ‘Jiwa Feodal’. Peninggalan Belanda masih saja melekat dalam diri
manusia Indonesia. Bentuk-bentuk feodalisme baru terus bermunculan hingga kini.
Menurutnya sikap-sikap tersebut dapat dilihat dari bagaimana pemerintah dalam urusan
jabatan masih mengutamakan hubungan atau kedekatan daripada kompetensi,
pengalaman, maupun pengetahuannya. Sikap ini tidak hanya tumbuh subur di kalangan
atas, namun juga bawah.
Keempat, ciri manusia Indonesia yang disinggung oleh Mochtar Lubis juga adalah
‘Percaya Tahayul’. Ciri yang satu ini tak lepas dari kebudayaan dan tradisi bangsa
Indonesia. Pengobatan yang mengandalkan dukun dan sihir pun masih dilakukan
masyarakat daerah, ini bahkan dilakukan untuk mendapatkan sebuah jabatan.
Dari enam kritik yang diungkapkan, ciri kelima cukup positif. Menurut pandangan
Mochtar, manusia Indonesia bersifat ‘Artistik’. Manusia Indonesia memiliki daya artistik
yang cukup tinggi. Banyak karya anak bangsa yang diakui dunia. Misalnya hasil
tembaga, batik, tenun, patung kayu dan batu hingga ukiran. Menurutnya, ciri ini
merupakah salah satu yang paling menarik dan memiliki nilai tersendiri yang dapat
menjadi tumpuan masa depan manusia Indonesia.
Ciri khas keenam menurutnya adalah ‘Watak yang Lemah’ serta karakter yang kurang
kuat. Manusia Indonesia menurutnya sering bersedia mengubah keyakinannya agar
dapat ‘bertahan’. Manusia Indonesia lemah pendirian dan kurang memiliki gairah untuk
melawan realitas yang dihadapinya. Ia mengatakan bahwa Presiden Soekarno adalah
sosok yang mampu memberikan contoh ciri ini. Kegoyahan watak merupakan akibat
dari ciri masyarakat dan manusia feodal juga. Hal tersebut hingga kini masih terus
ditemukan dalam manusia Indonesia untuk menyenangkan atasan atau menyelamatkan
diri sendiri, “Asal Bapak Senang” (ABS).
Mochtar Lubis lahir pada 7 Maret 1922 di Padang. Ia adalah seorang sastrawan
Angkatan 1960-an. Hasil karya tulisannya antara lain, Harimau! Harimau!, Hati Nurani
Melawan Kezaliman, Senja di Jakarta. Ia dikenal sebagai penulis novel, cerpen,
penerjemah, pelukis dan seorang jurnalis ternama. Sebagai tokoh pers Indonesia,
Mochtar Lubis dipandang sebagai sosok yang peka terhadap penderitaan orang dan
tidak mau berkompromi dengan kekuasaan.
Di masa mudanya, Mochtar Lubis mendapat pendidikan di Sekolah Ekonomi INS Kayu
Tanam, Sumatera serta Jefferson Fellowship East and West Center, Universitas Hawaii.
Semasa hidupnya, ia pernah aktif sebagai Penerbit dan Pemimpin Redaksi Harian
Indonesia Raya Jakarta. Dalam perjalanan kariernya, ia mendapatkan Magsaysay
Award untuk jurnalistik dan kesusasteraan, Golden Pen Award dari International
Association of Editors and Publishers dan menerima berbagai penghargaan lainnya.
Beliau juga menjadi anggota banyak lembaga penting, seperti Pimpinan Umum majalah
Horison, anggota Board of the International Association for Cultural Freedom, dan
anggota Board of the Internation Press Institute (Zurich) antara lain.
Mochtar Lubis mengalami tahanan penjara selama 9 tahun (1956-65) dalam masa
pemerintahan Presiden Soekarno; dan pada tahun 1974, di era Presiden Soeharto,
mengalami dua bulan tahanan setelah terjadinya peristiwa ‘Malari’.
Banyak tulisannya berdasarkan analisa yang ia lakukan puluhan tahun silam. Antara
lain tentang minyak dunia. Perkembangan negara adidaya yang mengandalkan sumber
daya alam dari negara lain serta bagaimana kepanikan mereka menyongsong tahuntahun berikutnya. Ia juga mengemukakan bahwa bencana alam yang terjadi saat ini dan
yang akan datang dikarenakan ulah manusia itu sendiri yang tidak pernah merasa
cukup.







