Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Rainha Boki Raja

Rainha Boki Raja

Kehidupan Ratu Ternate yang Penuh Goresan Duka

Menurut catatan sejarah, jauh sebelum bangsa Eropa melakukan aktifitas perdagangan di Asia Tenggara, Nusantara telah menjadi pemain penting di dunia perdagangan rempah-rempah. Maluku Utara, merupakan sebuah kawasan titik temu dan perkenalan Nusantara dengan dunia luar berawal. Bisa dibilang perkenalan Nusantara dengan manca negara berawal dari pulau-pulau penghasil rempah-rempah. Perdagangan rempah-rempah tercatat sejak abad ke-7 periode Dinasti Tang (618-907 M) di Cina. Perdagangan ini dengan sendirinya membuka jalur perjalanan ke Maluku. Di kepulauan inilah cengkih dan pala berasal.

Dalam sebuah buku berjudul Rainha Boki Raja: Ratu Ternate Abad Keenambelas, karya Toeti Heraty, sang penulis menuliskan “seorang putri lahir di Kesultanan Tidore, tahun tak diketahui pasti, sebelum 1500 Masehi barangkali, dan namanya dilupakan oleh sejarah—siapa yang mencatat sejarah kalau tidak pendatang bule yang menaklukkan Goa dan Malaka tahun1511 dan menemukan peta berhuruf Jawa yang membuka rahasia jalan samudera ke Kepulauan Nusantara dengan ketenaran rempah-rempahnya”.

Sang putri yang lahir di Kesultanan Tidore itu pada usianya yang masih belia, demi misi perdamaian antara Tidore dan Ternate, kemudian dinikahkan dengan seorang Sultan Ternate yang usianya sudah mencapai 50an. Nama aslinya tidak begitu jelas. Setelah menikah ia menyandang nama Rainha Boki Raja yang juga kemudian dikenal sebagai Nyai Cili Boki Raja atau Sultanah Nukila yang juga disebut sebagai Nyai Cili Nukila. Rainha Boki Raja adalah nama gelar milik Sultanah Ternate yang tercantum dalam dokumen-dokumen Portugis.

Sang putri yang lahir di Kesultanan Tidore itu pada usianya yang masih belia, demi misi perdamaian antara Tidore dan Ternate, kemudian dinikahkan dengan seorang Sultan Ternate yang usianya sudah mencapai 50an. Nama aslinya tidak begitu jelas. Setelah menikah ia menyandang nama Rainha Boki Raja yang juga kemudian dikenal sebagai Nyai Cili Boki Raja atau Sultanah Nukila yang juga disebut sebagai Nyai Cili Nukila. Rainha Boki Raja adalah nama gelar milik Sultanah Ternate yang tercantum dalam dokumen-dokumen Portugis.

Ratu Nukila adalah anak dari Sultan Al-Mansur (Sultan Tidore 1512-1526), ia dinikahkan oleh ayahnya dengan Sultan Bayanullah (Sultan Ternate 1500-1521). Setelah menikah, Nukila melahirkan tiga orang putra, Pangeran Hidayat (Dayalo) dan Pangeran Abu Hayat (Boheyat) dan Tabariji. Dalam buku Toeti Heraty, Rainha Boki Raja: Ratu Ternate Abad Keenambelas, tertulis bahwa Tabariji, adalah anak dari perkawinan Ratu Nukila yang kedua dengan seorang pria bernama Pati Sarangi. Ketiga putranya berturut-turut menjadi sultan di kepulauan Maluku.

Dengan berjalannya waktu duka bergantian menghampiri Boki Raja. Ayahnya, Sultan Al-Mansur, wafat karena diracun. Tidak lama kemudian suaminya, Sultan Bayanullah, juga meninggal karena diracun. Kematian Sultan Bayanullah pada 1521 menimbulkan kekosongan kepemimpinan Kesultanan Ternate yang merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar di kepulauan Maluku. Karena pada saat itu putra mahkota, Pangeran Hidayat, belum cukup usia maka disepakati untuk sementara kepemimpinan akan dijalankan oleh dua orang, Ratu Nukila dibantu Pangeran Taruwese yang adalah saudara Sultan Bayanullah. Ratu Nukila dinobatkan dengan gelar Ratu Nyai Cili alias Sultanah Nukila atau dikenal pula sebagai Rainha Boki Raja. Walaupun dianggap hanya untuk sementara, ia menjadi pemimpin perempuan pertama dalam sejarah Kesultanan Ternate.

Tapi perjalanan Rainha Boki Raja penuh dengan tekanan dan ancaman. Selama menjadi pemimpin, ia hidup dalam pertarungan kekuasaan para kolonial Portugis dan Spanyol. Kedua penjajah tersebut selalu melakukan adu domba dan fitnah diantara keluarga kesultanan. Sementara dari luar Ratu Nukila diserang politik para penjajah, di wilayah Maluku Utara sendiri terjadi pertikaian antara Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo. Persaingan membuat hubungan keempat pulau ini tidak pernah lepas dari kemelut. Berbagai intrik dan sabotase dari berbagai pihak harus dihadapinya. Setelah pernikahannya dengan Sultan Bayannulah, pertikaian antara Ternate dan Tidore sedikit demi sedikit mereda, namun tidak pernah sepenuhnya hilang.

Di saat kerajaan Ternate sudah dikolonisasi Portugis dan saat itu tidak ada pemimpin lain, Boki Raja masuk sebagai pemimpin dan ia berhasil menjatuhkan Portugis. Dengan dukungan masyarakat dan kesultanan Maluku lainnya Boki Raja dengan berani menggempur benteng pertahanan Portugis. Ia dan para pendukungnya kemudian melakukan blokade makanan dan menuntut pembebasan kedua putranya yang dipenjarakan. Saat itu seorang pemimpin Portugis, Gonzales Fereira, mati terbunuh.

Keinginannya untuk menyatukan Ternate dan Tidore tidak terjadi karena Portugis tidak ingin Ternate dan Tidore bersatu. Mereka menghasut Taruwese dan menjanjikan tahta kerajaan baginya. Maka terjadilah perang saudara. Kubu Taruwese yang didukung Portugis menang dan mengambil alih kekuasaan Kesultanan Ternate. Dalam konflik ini Pangeran Hidayat, putra Boki Raja, mati terbunuh. Tapi nasib Taruwese tidak lebih baik. Hanya beberapa lama memimpin, Taruwese dibunuh setelah diperalat oleh Portugis. Saat itu banyak intrik, propaganda dan fitnah yang didalangi Portugis.Tahta Ternate kemudian jatuh ke tangan Pangeran Abu Hayat. Tapi ia juga tidak lama menjabat, Portugis kembali menyusun fitnah untuk menjebloskannya ke penjara. Saat di dalam penjara iapun wafat diracun.

Begitulah kehidupan Rainha Boki Raja yang penuh dengan goresan duka. Ayah, suami, hingga ketiga anaknya menjadi korban intrik dan fitnah Portugis yang ingin menguasai kekayaan Ternate. Sungguh sangat ironis, Rainha Boki Raja yang belasan tahun hidup ditengah-tengah pertarungan dan yang telah memainkan peran penting dalam menjaga eksistensi Kesultanan Ternate dari ancaman penjajah, pada saat yang sama harus melawan anggota keluarganya sendiri yang bersekongkol dengan Portugis untuk mengambil alih tahta dari putra-putranya, dilupakan begitu saja.

Rainha Boki Raja, seorang ratu dan bupati Ternate serta merupakan perempuan pertama di tanah Ternate yang ikut berperan dalam memimpin kerajaan Muslim terbesar di Timur Nusantara. Ia diberikan peran yang begitu penting dalam kehidupan tetapi memiliki kehidupan yang sangat tragis. Ia pantas dikenang sebagai sosok hebat dari Ternate.

Sumber foto: Jurnal Kebudayaan Historia.id

Related Post

Kenali 5 Perpustakaan di Jakarta Seru dan Instagramable

Tempat Pelarian Dari Keriuhan Kehidupan Kota Yang Serba Cepat Dan Serba Digital Membaca buku menjadi obat akan kecanduan digitalisasi saat ini, saat semua bacaan dapat diakses lewat satu buah gawai, [...]

Cap Go Meh di Bekasi

Bekasi seringkali dilihat sebelah mata, hal ini memang tak bisa dipungkiri karena beberapa tahun silam, saat akses menuju Bekasi terhitung masih jauh dari akselerasi kemudahan, kesan itu begitu menguat. Hal [...]

Pameran Repatriasi, Menggali Kembali Kekayaan Masa Lalu Indonesia Lewat Saksi Bisu Peradaban Nusantara

Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia menyelenggarkan Pameran Repatriasi, Kembalinya Saksi Bisu Peradaban Nusantara. Bertempat di Gedung A [...]

Cahayo Hati Limpapeh Persembahkan Makan Bajamba, Upaya Melestarikan Budaya Minangkabau

Perkumpulan budaya Cahayo Hati Limpapeh kembali menyelenggarakan kegiatan budaya, khususnya dari Sumatera Barat. Kali ini komunitas yang bergerak dalam pelestarian budaya Nusantara khususnya budaya Minang ini menggelar Makan Bajamba di [...]

Ketika Lagu Halo-Halo Bandung Menjadi Hello Kuala Lumpur

Beberapa waktu yang lalu masyarakat dibuat heboh dengan sebuah unggahan video di media sosial persisnya di kanal YouTube Kids. Video yang diunggah berjudul Nasyid Kanak-Kanak Islam Malaysia Hello Kuala Lumpur [...]

Sumbu Filosofi Jogja Menjadi Warisan Budaya Dunia

Dalam sidang Komite World Heritage UNESCO di Riyadh, Arab Saudi, UNESCO telah menetapkan Sumbu Filosofi Jogja sebagai Warisan Budaya Dunia. Indonesia kini memiliki lima warisan budaya dunia, Candi Borobudur, Candi [...]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.