Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Sunyi di Dada Sumirah

Sunyi di Dada Sumirah

Kisah Perempuan Tiga Generasi

Kisah-kisah tentang perempuan selalu menarik. Bukan berarti kisahnya selalu indah dan berakhir bahagia, melainkan bagaimana cara tokoh perempuan di dalam sebuah kisah menapaki kehidupan, menentukan pilihan, dan berjuang bagi dirinya. Salah satu kisah tentang perempuan yang menarik itu adalah kisah tentang Sunyi, Sumirah, dan Suntini sebagai tokoh-tokoh utama dalam novel ini. Perempuan dari tiga generasi itu saling terhubung, tetapi kesulitan hidup yang mereka hadapi tidaklah sama. Tiga perempuan dari tiga masa yang berbeda itu memiliki perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan versi diri masing-masing.

Sunyi adalah seorang gadis beranjak dewasa yang sedang menempuh perguruan tinggi. Ia memutuskan untuk tinggal terpisah dengan ibunya, karena latar belakang dan profesi ibunya yang tak bisa ia terima sepenuhnya. Saat itu baginya lebih baik menapaki kesunyian dengan hidup di kamar kos berukuran 3×3 meter yang terletak di dalam sebuah gang kecil perkotaan. Batinnya penuh pergolakan. Ia menyangkal jati dirinya bahkan seperti marah kepada Tuhan akan nasibnya. Hidupnya adalah ironi. Di satu sisi ia memilih tinggal terpisah dari ibunya. Di sisi lain, ia masih mengandalkan materi ibunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliahnya. Sunyi menyadari hal itu. Pada akhirnya, sebuah kenyataan terungkap. Dengan tekat dan sebuah harapan yang kuat ia kembali pada ibunya. Ia bahkan ikut berjuang agar ibunya bisa lepas dari sebuah perjanjian yang selama ini imbasnya membuat Sunyi selalu ingin menyembunyikan jati dirinya.

Tokoh kedua, Sumirah, adalah seorang perempuan berparas cantik dari sebuah dusun di Jawa Tengah. Pada novel tak disebutkan usianya. Namun dari penokohan yang dibuat penulis, bisa diperkirakan usianya sudah mendekati 50 tahun. Saat lebih muda usianya, ia menunggu sebuah cinta yang dijanjikan seorang pemuda baik hati. Tak disangka, pemuda itu berkhianat dan menjerumuskan Sumirah dalam dunia yang kelam. Kejadian buruk itu menjadi titik awal perjalanan hidupnya di Jakarta. Sudah terlanjur jauh merantau dari dusun yang tenang, Sumirah tak punya pilihan untuk keluar dari dunia yang kelam di Ibu Kota. Ia menjalani peran barunya dengan mengandalkan keberanian untuk menghadapi takdir. Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan seorang laki-laki Eropa. Hubungan dengan laki-laki itu menghasilkam seorang anak perempuan yang kelak turut mengubah jalan hidupnya. Sayangnya, Sumirah nyaris tak memiliki kesempatan untuk bertemu kembali dengan laki-laki itu.

Bertahun-tahun sebelum Sunyi lahir dan Sumirah menjadi perempuan dewasa, seorang perempuan bernama Suntini hidup di dusun yang sama dengan dusun tempat Sumirah berasal. Ia menjadi janda karena suaminya hilang hanyut terbawa banjir. Ia lalu menafkahi hidup dan anak semata wayangnya dengan hasil berjualan telur asin. Suatu saat Suntini mendapatkan tawaran dari sahabat lama untuk menjadi guru tari di bawah sebuah organisasi kemasyarakatan. Setelah melalui kebimbangan, Suntini pun berani mengambil keputusan untuk menerima tawaran itu. Tanpa diketahui Suntini, keputusannya itu menyeretnya ke dalam suatu situasi berbahaya. Ia menjadi bertaruh nyawa karenanya. Padahal tak ada yang salah dengan menjadi guru tari serta tak ada kejahatan yang diperbuat Suntini. Takdir Suntini memisahkan ia dan anak semata wayangnya.

Novel yang memiliki tiga kisah ini dituliskan dengan baik. Setiap kisahnya dituliskan dari sudut pandang tiap-tiap tokoh. Pada bagian pertama ada kesan bahwa novel ini seperti novel-novel remaja pada umumnya. Namun, cerita menjadi lebih intens saat memasuki babak pertengahan dan akhir. Deskripsi tentang tokoh-tokoh utamanya, Sunyi, Sumirah, dan Suntini menguatkan karakter-karakternya. Novel ini menyuguhkan pengalaman perempuan yang mungkin banyak dialami oleh perempuan-perempuan lain di dunia nyata. Ia membicarakan tentang persoalan ketidakadilan dan kekerasan gender dan bagaimana perempuan menghadapinya. Penokohan laki-laki dalam novel ini tidak selalu menjadikan laki-laki sebagai penyelamat perempuan. Tokoh laki-laki dalam novel hanya sedikit. Dua tokoh laki-laki dalam novel ini ditempatkan sebagai tokoh yang antagonis. Lainnya muncul sebagai protagonis dan sebagai pemanis cerita. Novel ini memang tampak ingin menguatkan perempuan sebagai subjek yang memiliki otoritas terhadap jalan hidupnya.

Meskipun menarik, novel ini memerlukan kecermatan pembaca untuk menebak latar waktunya sebab penulis tak memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai latar waktu pada awal sampai pertengahan cerita. Latar waktu dalam kisah ini terbantu dengan kisah ketiga, yaitu kisah tentang Suntini. Kisah tentang Suntini diwarnai dengan salah satu peristiwa sejarah yang penting di Indonesia. Dengan demikian pembaca lebih mudah memperkirakan latar waktu dalam kisah Suntini. Secara umum Sunyi di Dada Sumirah adalah novel yang ceritanya mengalir dan mudah dinikmati dari awal cerita hingga akhirnya. Sunyi di Dada Sumirah adalah novel ketiga karya Artie Ahmad. Novel ini menambah khasanah kisah-kisah tentang perempuan yang tak melulu berkutat pada romansa.

Penulis: Artie Ahmad
Penerbit: Mojok
Tahun: 2018
Halaman: 297

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.