Sekolah ‘Ballet Sumber Cipta’ Melahirkan Tokoh Balet Indonesia
“Seluruh penonton dipersilahkan untuk berdiri”, sambut Master of Ceremony. Pementasan dan pertama kalinya bulan purnama tribute to Farida Oetoyo mengenang 80 tahun kelahiran maestro balet Indonesia. Jumat ,13 Desember 2019, Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki malam itu bergetar ketika lagu Indonesia Raya diiringi orkestra Jakarta City Philharmonic (JCP) berkumandang membuka suasana.
Burung Gelatik, Sajian Tarian Balet dan Musik Orkestra Bertemakan Anak
Tidak lama berselang panggung menyala, dua balerina mungil menari-nari diiringi lagu Burung Kutilang rekomposisi & orkestrasi karya Areza Riandra. Sekejap kemudian panggung Teater Besar tersaji semakin berwarna ketika enam balerina dengan kostum kupu-kupu menari-nari berkilauan diiringi lagu Kupu-Kupu rekomposisi & orkestrasi karya Rahel Pradika Purba.

Sajian pembuka ditutup manis dengan enam balerina berwajah ceria layaknya kuncup bunga menari-nari lihai diiringi lagu Lihatlah Matahari di Waktu Pagi rek. & ork karya Nanin Wardhani.

Tiga rangkaian koreografi bertajuk Burung Gelatik karya balerina legendaris Farida Oetoyo terinspirasi dari tiga lagu Saridjah Niung Sudibjo (Ibu Sud) bertemakan anak-anak: “Burung Kutilang”, “Kupu-Kupu” dan “Lihatlah Matahari di Waktu Pagi.”

Nuansa dunia anak tersaji pada sajian pembuka ini, penonton kembali diperkenalkan dengan tarian balet dan lagu bertemakan anak. Komposisi musik orkestra dan keseluruhan koreografi dimainkan oleh penari balet berusia anak.

Sang Pemecah Kenari, Sajian Tarian Balet Dramaturgi Klasik Bernuansa Fantasi
Pada sajian Sang Pemecah Kenari, penonton dibuat terkesima dengan komposisi musik orkestrasi dari JCP. Dipandu dua pengaba Fafan Isfandiar dan Suthipong Tantivanichkij memainkan komposisi musik orkestra karya Pyotr Ilyich Tchaikovsky.

Babak pertama mengisahkan Clara kecil membantu cendera mata Natal ajaibnya (pemecah kenari berbentuk figur prajurit) mengalahkan pasukan tikus. Sebagai imbal jasa, pada babak selanjutnya Sang Pemecah Kenari membawa Clara ke kerajaan garibnya dan memperkenalkannya kepada berbagai karakter dalam rangkaian tari.

Pada pertunjukan ini, JCP memainkan tiga nomer balet Sang Pemecah Kenari: Belantara Pinus Saat Musim Dingin; Walsa Bulir-Bulir Salju; Pas De Deux: Sang Pangeran dan Peri Gula-Gula dengan koreografi garapan Farida Oetoyo.

Konserto Piano dalam G mayor, Gerakan Kedua: Adagio Assai…dan untuk pertama kalinya bulan purnama
Setelah jeda rehat, penonton disajikan dengan set panggung berlatarbelakang jembatan, bangku panjang dan sebuah lampu bernuansa cuaca dingin di Eropa. Drama balet musikal diperankan oleh sepasang balerina, lawan jenis. Alur dramatik tarian mengisahkan sebuah pertemuan yang manis sepasang anak manusia. Gerakan dinamis saling merespon melukiskan alur kisah dimulai dari pertemuan, pendekatan kemudian percintaan.

Kepada Kultural.id, Jumat, 13/12/2019, Arya Yudistira Sjuman selaku kreator koreografi ….dan untuk pertama kalinya bulan purnama mengungkapkan bahwa karya tersebut mengisahkan kisah cinta Farida Oetoyo dan Sjuman Djaja ketika di Moskow.
“Karya ini saya buat terutama untuk mendedikasikan kepada kedua orang tua saya, bercerita tentang kisah percintaan mereka ketika di Moskow. Saya membaca bukunya dan mencari tahu dari teman-teman mereka. Berdasarkan itu saya membuat tarian ini. Kisah percintaan ketika mereka mulai bertemu, berpacaran, kemudian dilamar, ending-nya mereka memutuskan untuk menikah”, ungkap Yudistira.

Kisah di dalam pementasan ini dituliskan oleh Farida Oetoyo dalam bukunya, Saya Farida: Sebuah Autobiografi, berlatar sebuah dermaga Sungai Moskow di dekat Hotel Ukraina.
“Sjuman berkata dengan suara bergetar karena kedinginan, mungkin ditambah emosi yang dalam, “Saya di tempat ini ingin melamar Non secara resmi, di dermaga Sungai Moskow ini di dekat Hotel Ukraina, sehingga Non akan selalu ingat di mana saya melamar.”

Arya Yudistira Sjuman dengan koreografinya diiringi musik karya Maurice Ravel ‘Konserto Piano dalam G Mayor, gerakan kedua: Adagio Assai’ yang dimaikan oleh pianis Harimada Kusuma berhasil membawa suasana itu kepada penonton. Magis, Romantis dan Menggetarkan.

Serdtse Sajian Penutup yang Mengagumkan
Penampilan terakhir dibuka dengan alunan piano bernada detak jantung yang repetitif. Lima penari memakai topeng putih berbalut kain panjang berwarna merah darah perlahan masuk ke dalam panggung.

Unsur teatrikal cukup kental pada penampilan bertajuk Serdtse ini. Komposisi musik karya Aksan Sjuman yang dimainkan oleh JCP penuh dengan nada kecemasan di awal adegan.
Menurut penuturan Aksan Sjuman Serdtse adalah terjemahan bahasa Rusia dari Jantung. Koreografi tarian ini terinspirasi oleh pengalaman Farida Oetoyo sendiri saat didiagnosa menderita penyumbatan pembuluh darah jantung sehingga mengharuskan melakukan operasi angiosplasty untuk membuka penyumbatan koroner.

Mengenai Serdtse di dalam autobiografinya, Farida Oetoyo menuliskan, “Kejadian yang saya alami dalam perjalanan hidup saya bisa menjadi sumber inspirasi seperti karya saya Makan Siang dan Serdtse. Saya selalu berpikir logis dan realistis, berpijak pada realitas dan tidak semata-mata berkhayal. Pengalam pahit maupun manis bisa dikaitkan dengan proses pencinptaan. Di sinilah nikmatnya berkesenian. Suka maupun duka bisa jadi kawan setia.”

Kepada Kultural.id, Jumat, 13/12/2019, Aksan Sjuman mengungkapkan, “Koreografi Serdtse terdiri dari lima alur tarian: Pembukaan, Pulsasi, Adagio, Setelah Badai Teduh dan Ooom. Belakangan saya ketahui ‘Ooom’ mengisyaratkan tentang kepergian.”
Pementasan dan untuk pertama kalinya bulan purnama Tribute to Farida Oetoyo diselenggarakan hasil kerjasama Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta City Philharmonic dan Ballet Sumber Cipta serta mendapat dukungan dari Unit Pelaksana Pusat Kesenian Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pada momentum ini pula Dewan Kesenian Jakarta, Pusat Studi Urban Institut Kesenian Jakarta, Pasca IKJ serta didukung oleh Jakarta City Philharmonic dan Ballet Sumber Cipta meluncurkan buku Miss Fari, Pointe to remember. Kepingan kisah Farida Oetoyo seperti yang dituturkan oleh orang-orang yang mencintainya.

Sebagian dari mereka yang pernah bersentuhan dengan Farida Oetoyo dan tak habis-habisnya berterima kasih atas peran beliau, menuangkan kisahnya dalam buku ini.





