Visi
Menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia untuk mendapatkan berita dan informasi seni, sastra, dan budaya Indonesia secara digital.

Misi
MENYATUKAN informasi karya dan kegiatan dari para pelaku seni, sastra, dan budaya untuk dapat diakses secara digital dengan mudah, Baca Selengkapnya...

Sejarah Mati Di Kampung Kami

Sejarah Mati Di Kampung Kami

Merawat Ingatan, Melawan Lupa, dan Belajar Ikhlas…

Masyarakat selama ini boleh jadi hanya mengonsumsi berita-berita yang ditulis oleh para jurnalis di media massa, tanpa pernah mengetahui fakta-fakta ‘istimewa’ yang menjadi latar belakang atau motif dari peristiwa yang mereka simak. Dalam dunia redaksi atau newsroom ini dikenal dengan istilah ‘cerita di balik berita’.

Mantan jurnalis majalah Tempo — yang baru saja diangkat menjadi Wakil Menteri Kominfo, Nezar Patria, belum lama ini menerbitkan kumpulan kisah pribadi dan tulisan pendek semacam ‘cerita di balik berita’, dalam sebuah buku berjudul Sejarah Mati di Kampung Kami.

Nezar ‘dibesarkan’ di majalah Tempo yang memegang erat tradisi ‘gali cerita sedalam-dalamnya’ untuk sebuah peristiwa yang sedang diliput. Tradisi ini menjadikan esai-esai atau mini in-depth reporting yang ditulisnya mengalir lancar. Bahkan tanpa sadar kita ikut terbawa dalam alurnya, merasakan pahit getir pengalaman si penulis, dan ikut tertawa dan terharu membayangkan interaksi nyata Nezar dengan tokoh-tokoh yang dinarasikan dalam buku.

Terdapat 29 tulisan dalam buku ini. Kisah pertama diawali dengan cerita pasca-tsunami. Nezar kembali ke Banda Aceh untuk penugasan dari majalah Tempo dan mendapati rumah yang dia tempati sejak kecil hingga remaja tak lagi tegak seperti semula. Foto-foto dan barang-barang lain terserak, demikian pula taman sang ibunda di beranda rumah yang sarat bunga Anyelir. Semua hancur tersapu gelombang tsunami.

“Bau laut kini tercium sampai ke bekas permukiman warga kota yang kini porak-poranda itu. Pahit. Saya mendadak kehilangan ruang. Dan juga sejarah,” tulis Nezar dalam paragraf penutup artikel ini.

Pengalaman lain yang tak kalah menegangkan adalah saat ia masuk ke dalam hutan di pedalaman Aceh Utara untuk mengikuti gerilya pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Saat itu Darurat Militer sedang diterapkan pemerintah Indonesia di Aceh, pada kurun waktu 1999-2003.

Nezar yang putra Aceh asli dipercaya untuk menjadi salah satu dari lima jurnalis yang diizinkan GAM untuk ikut mengawasi proses pembebasan juru kamera RCTI, Ferry Santoro. Kisah pembebasan ini sungguh dramatis dan menegangkan. Baku tembak TNI dan GAM bisa sewaktu-waktu terjadi. Ersa Siregar, wartawan RCTI, telah lebih dulu tewas dalam kontak senjata TNI dan GAM.

Nezar menulis, dia bahkan tidak tahu apakah bakal selamat atau tidak. Namun sejarah mencatat pembebasan itu berhasil dilakukan, Nezar cs dan Ferry Santoro masih hidup hingga sekarang.

Hal lain yang menarik dan mungkin kurang banyak diketahui generasi masa kini adalah Nezar merupakan satu dari 13 korban penculikan pada masa Orde Baru. Dia diculik pada 1997 oleh tim mawar bentukan Kopassus, melibatkan mantan petinggi TNI yang kini duduk dalam jajaran kabinet Jokowi.

Aktivitasnya sebagai Sekjen Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (SMID) menjadikannya sebagai target pihak keamanan hingga terjadilah penculikan itu. Nezar menuliskan kesaksian demi kesaksian dengan tenang, meski penuh adonan emosi.

Jika disebut memoar, rasanya buku ini belum terlalu pas masuk dalam kategori itu, sebab ada beberapa tulisan opini dan artikel yang berdasarkan riset. Tetapi jika ada satu dua kisah yang menjadikan Anda melamun teringat akan sesuatu di masa silam, maka Anda tidak sendirian karena mungkin pembaca-pembaca lain juga mengalami hal serupa.

Saya kira buku ini lebih tepat disebut sebagai ‘kenang-kenangan’ ketimbang memoar. Dia ibarat kumpulan cinderamata yang disusun menjadi bentuk baru. Jika dijadikan novelpun cocok karena ada banyak tokoh menarik, seperti si tukang cukur langganan, Pak Hamid guru sejarah yang menginspirasi, dan wangi sirop Kurnia yang pada masanya sangat beken se-antero Aceh dan Medan.

Di luar itu semua, buku ini layak dijadikan hadiah atau sebagai traveling book saat Anda sedang di perjalanan. Nezar Patria mengajarkan kita untuk tetap merawat ingatan, melawan lupa, namun tetap ikhlas meski sangat berat. Selamat membaca!

Sumber Foto: Wella Madjid

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.